Tasbih Kosong mencoba menghadirkan horor dan drama, namun justru berubah menjadi komedi tak sengaja akibat naskah dan eksekusi yang kacau.
Pembukaan: Ketika Keseriusan Berbalik Jadi Kelucuan
“Kosong adalah isi, isi adalah kosong.” Kutipan dari Biksu Tong tersebut seperti menjadi ironi bagi film Tasbih Kosong. Betapapun penonton mencoba memaknai film ini dari beragam sudut pandang, hasil akhirnya tetap sama: film yang diniatkan untuk serius justru terasa kosong—dan lucunya menjadi penuh tawa.
Film bahkan dibuka dengan peringatan anti-pesugihan, seakan ingin memberi kesan religius dan tegas. Namun begitu cerita bergulir, penonton justru disuguhi pengalaman yang bertolak belakang dari kesan tersebut.
Premis Cerita: Horor Desa, Pesugihan, tapi Arah Hilang
Cerita dimulai di tahun 2020 sebelum berpindah ke 1995, namun adegan masa kini tak pernah dijelaskan lagi. Dua pegawai Badan Pusat Statistik, Umar dan Asti, dikirim ke sebuah desa terpencil di Sulawesi. Mereka tinggal di rumah Pak Kades, sosok yang tampak religius tapi diam-diam menjalankan pesugihan.
Tasbih yang selalu digenggam bukan untuk dzikir, melainkan sebagai media ritual mistis. Ia salat bertelanjang dada dan gerakannya lebih mirip yoga. Semua ini—yang seharusnya menimbulkan horor—justru tampak seperti parodi.Permainan Terbaik Dan Tampilan HD Hanya Di AbangEmpire
Kenapa Filmnya Terasa Lucu?
Jika Tasbih Kosong dilihat sebagai horor, film ini mengecewakan.
Namun jika dilihat sebagai komedi, film ini sangat berhasil.
Beberapa penyebabnya:
-
Dialog kaku yang terdengar seperti gurauan
-
Pemeran Pak Kades yang terlalu sering tertawa
-
Akting dan penyuntingan yang tak sinkron namun mengundang senyum
-
Adegan serius yang justru terasa seperti parodi
Bahkan chemistry dramatis dan romansa antara Umar dan Rajeng terkesan lebih intens daripada ketegangan horornya.
Baca juga : Review Kultus Iblis: Tema Kuat, Eksekusi Mengecewakan By AbangEmpire
Romansa, Pesugihan, dan Twist yang Tak Bekerja
Alih-alih menonjolkan kengerian pesugihan, film lebih fokus pada drama dan romansa. Horor hanya hadir sesekali melalui penampakan yang tampak asal. Di akhir film, muncul tumpukan twist tiba-tiba yang membuat tindakan karakter sebelumnya terlihat makin tidak masuk akal.
Yang membuat penonton mengernyit:
-
Tiga karakter wanita, semuanya pernah ditampar
-
Twist akhir yang dipaksakan dan tak memperkuat cerita
-
Potensi kritik moral dan agama yang tidak tergarap
Kesimpulan: Potensi Besar, Eksekusi Gagal
Sebenarnya Tasbih Kosong memiliki fondasi cerita yang menarik: simbolisme “tasbih kosong”, kemunafikan religius, dan bahaya pesugihan yang merasuki masyarakat. Dengan eksekusi yang tepat, film ini bisa menjadi horor psikologis yang berbobot.
Namun pada akhirnya:
-
Potensi horor terkubur,
-
Drama terlalu mendominasi,
-
Eksekusi teknis dan naskah melemahkan keseriusan film.
Tasbih Kosong bukan film horor terbaik—tapi mungkin salah satu komedi tak disengaja paling menghibur tahun ini.

