Ada rasa kesal yang sulit dijelaskan ketika sebuah film sejak awal menjanjikan sesuatu yang besar, namun pada akhirnya tidak memberikan apa pun. Perasaan itulah yang muncul saat menonton Tarian Lengger Maut. Sepanjang durasi, film ini terus menggiring penonton pada harapan akan payoff besar, tetapi berakhir tanpa klimaks yang berarti.
Masalahnya bukan sekadar ekspektasi penonton yang terlalu tinggi. Sejak awal, film ini dengan sadar membangun misteri, menebar petunjuk, dan mengarahkan rasa ingin tahu ke satu tujuan tertentu. Sayangnya, semua itu dikhianati oleh naskah yang tak pernah benar-benar berniat menuntaskan janjinya.
Padahal, potensi yang dimiliki Tarian Lengger Maut terbilang besar. Ia berpeluang menjadi salah satu horor lokal paling segar dalam beberapa tahun terakhir, sebelum akhirnya runtuh oleh kelemahannya sendiri.
Premis Menarik dengan Misteri yang Menggoda
Cerita dibuka dengan sosok dr. Jati (Refal Hady), dokter baru yang ditempatkan di Desa Pagar Alas. Namun, ia bukan dokter biasa. Diam-diam, Jati menculik warga desa dan mengambil jantung mereka hidup-hidup. Di sisi lain, ada Sukma (Della Dartyan), kembang desa yang tengah menjalani proses menjadi penari lengger.
Pertemuan singkat mereka menimbulkan tanda tanya besar. Tatapan Sukma yang penasaran dan degup jantung Jati seolah menandakan ada hubungan tersembunyi. Dari sinilah pertanyaan utama film muncul: apa sebenarnya yang menghubungkan mereka?
Naskah karya Natalia Oetama menjadikan pertanyaan tersebut sebagai fondasi misteri. Pada titik ini, benih potensi mulai tumbuh. Film ini bisa saja menjadi eksplorasi mistisisme Jawa, studi psikologis tentang trauma dan psikopatologi, atau bahkan perpaduan slasher dengan horor supernatural.
Namun, semua kemungkinan itu tak pernah benar-benar diwujudkan.
Baca juga : Ghost Writer 2: Horor, Komedi, dan Drama Keluarga By AbangEmpire
Ide Besar yang Tak Pernah Dikembangkan
Alih-alih memilih satu pendekatan dan menggalinya lebih dalam, Tarian Lengger Maut justru berjalan setengah-setengah. Elemen horor tidak cukup mencekam, sementara unsur thriller pun gagal membangun ketegangan. Alhasil, film ini kehilangan identitasnya sendiri.
Durasi singkat sekitar 71 menit seharusnya memungkinkan penyajian cerita yang padat. Sebaliknya, film ini justru terasa seperti naskah draft awal yang belum selesai ditulis. Beberapa flashback singkat mengenai masa lalu dr. Jati tidak memperkaya karakternya. Penonton pun kesulitan memahami motivasi, apalagi bersimpati.
Penampilan Refal Hady, yang banyak bertumpu pada suara lirih dan ekspresi tertahan, tidak cukup menolong. Bukan semata kesalahan aktor, melainkan akibat naskah yang terlalu dangkal untuk dihidupkan.Permainan Dengan Deposit kecil Withdraw Besar hanya di AbangEmpire
Horor yang Gagal Menjadi Horor
Sebagai film horor, Tarian Lengger Maut nyaris tak meninggalkan rasa takut. Adegan pembedahan yang dilakukan dr. Jati tampil jinak, kemungkinan besar demi menghindari sensor. Sayangnya, ketika gore bukan pilihan, film ini juga gagal membangun teror psikologis sebagai gantinya.
Ada upaya kecil memunculkan keresahan sosial lewat obrolan warga di warung kopi mengenai orang-orang yang menghilang. Namun, momen tersebut hanya lewat begitu saja. Tidak ada eskalasi. Bahkan, muncul pertanyaan logis yang tak terjawab: jika begitu banyak warga hilang, mengapa aparat tidak melakukan penyelidikan serius?
Ketiadaan konsistensi ini semakin memperkuat kesan bahwa film ini tidak tahu arah mana yang ingin dituju.
Cahaya Kecil di Tengah Kegagalan
Meski begitu, Tarian Lengger Maut tidak sepenuhnya tanpa kelebihan. Tarian Della Dartyan tampil memikat dan hipnotis. Beberapa elemen visual, terutama penggunaan warna merah pada adegan tari menjelang klimaks, berhasil menciptakan atmosfer mistis yang kuat.
Sayangnya, sekali lagi, kekuatan visual ini tidak ditopang oleh cerita yang solid. Kapasitas Della Dartyan pun terbuang percuma karena karakter Sukma tidak pernah digali lebih dalam.

