Tanduk Setan: Horor Mistis tentang Kelahiran dan Kematian
Film Tanduk Setan menghadirkan horor religius yang tidak hanya mengandalkan penampakan makhluk gaib, tetapi juga mengajak penonton merenungi makna kehidupan manusia. Terinspirasi dari hadis tentang dua tanduk setan yang mengiringi terbit dan tenggelamnya matahari, film ini menawarkan tafsir simbolik: matahari disamakan dengan hidup manusia, sementara terbit dan tenggelamnya menjadi metafora kelahiran dan kematian.
Interpretasi ini menjadi fondasi utama Tanduk Setan, sebuah film antologi yang terdiri dari dua cerita terpisah. Meski materi promosinya tidak secara gamblang mengungkap format antologi tersebut, film ini jelas terbagi menjadi dua bab: Kelahiran karya Amriy R. Suwardi dan Kematian garapan Bobby Prasetyo. Keduanya sama-sama menyoroti dosa manusia yang menghambat siklus hidup paling mendasar.
Baca juga:
404 Run Run, Horor Komedi Thailand Serasa Rumah Hantu
Oleh: Empire88
Kelahiran: Dosa dan Ketidaksiapan Menjadi Orang Tua
Kisah pertama mengikuti Jaya (Boy Muhammad), seorang pria yang menunggu proses persalinan istrinya, Sumirah (Nur Mayati). Namun kelahiran sang bayi tak kunjung terjadi. Hari berganti hari, kondisi Sumirah stagnan, seolah ada sesuatu yang menahan proses alamiah tersebut.
Di sisi lain, Jaya digambarkan sebagai sosok yang belum matang. Ia enggan melamar pekerjaan tetap karena pesimisme, memilih hidup dari pekerjaan serabutan, dan bahkan belum memikirkan biaya akikah anaknya. Ketika dua temannya datang menjenguk, obrolan mereka semakin menegaskan bahwa Jaya belum siap secara mental maupun moral untuk menjadi ayah.
Alih-alih menunjukkan kepanikan, Jaya justru menghabiskan malam bermain gim hingga subuh. Sikap abai ini memperkuat pesan bahwa dosa dan kelalaian manusia dapat berdampak pada siklus kelahiran itu sendiri.
Secara penyutradaraan, Amriy R. Suwardi memilih tempo lambat dan menahan diri dari formula horor konvensional. Paruh awal film lebih fokus pada dialog kasual dan pembangunan karakter, dengan gangguan horor yang muncul perlahan lewat kejadian-kejadian ganjil di sekitar Sumirah.Permainan Yang Bagus Dengan Deposit Rendah Kini Hadir Di Empire88
Kematian: Beban Masa Lalu dan Ajal yang Tertunda
Cerita kedua, Kematian, menyajikan konflik yang lebih ringkas namun padat. Nur (Taskya Namya) harus menghadapi kenyataan pahit ketika ibunya sulit meninggal dunia akibat susuk yang ditanamnya di masa muda demi bertahan hidup. Dosa masa lalu itu kini menahan sang ibu dari proses kematian yang seharusnya alami.
Kembali muncul sosok ayah yang pasif dan tidak berdaya (Rukman Rosadi), hanya duduk mengamati sambil merokok. Meski sekilas membuka ruang tafsir soal relasi gender dan tanggung jawab keluarga, naskah film tidak mengembangkan isu tersebut lebih jauh.
Dengan durasi sekitar 20 menit, Kematian terasa jauh lebih efektif dibanding kisah pertama. Musik gubahan Fajar Ahadi membangun ketegangan dengan tepat, pacing-nya solid, dan twist yang dihadirkan mampu menutup cerita sebelum kehilangan daya gugah.
Antologi Mistis, Bukan Horor Biasa
Perbandingan durasi yang timpang—55 menit untuk Kelahiran dan 20 menit untuk Kematian—memberi dampak signifikan. Babak akhir Kelahiran terasa berlarut-larut, sehingga intensitas yang sempat terbangun di awal perlahan mengendur. Beberapa ide visual menarik, seperti penampakan hantu yang terdistorsi di tengah hutan, sayangnya kehilangan efek karena tempo yang terlalu lambat dan pencahayaan yang terlampau gelap.
Pada akhirnya, Tanduk Setan justru tampil paling kuat saat tidak bergantung pada kemunculan hantu. Film ini lebih efektif sebagai kisah mistis religius yang menyoroti konsekuensi dosa manusia. Sebuah antologi yang mengingatkan bahwa kelahiran dan kematian bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan siklus hidup yang bisa terhambat oleh kesalahan yang pernah ditanam di masa lalu.

