Sumala: Horor Megah dengan Cerita yang Penuh Kejanggalan

Sumala: Horor Megah

Sumala: Horor Megah dengan Cerita yang Penuh Kejanggalan

Sumala kembali menunjukkan ciri khas produksi Hitmaker: skala megah, visual mahal, serta atmosfer horor yang dibuat seefektif mungkin untuk menarik perhatian penonton. Namun di balik kemasan sinematik yang memukau, film adaptasi utas Betz Illustration ini justru menyisakan banyak kejanggalan—baik dari sisi logika, detail historis, hingga konsistensi cerita.

Setting dan Bahasa yang Tidak Meyakinkan

Berlatar tahun 1940-an di Semarang, film ini mengikuti kehidupan pasangan Soedjiman (Darius Sinathrya) dan Sulastri (Luna Maya) yang digambarkan sebagai keluarga Jawa kelas atas. Ironisnya, baik penampilan maupun penggunaan Bahasa Jawa keduanya jauh dari kredibel. Kesalahan pengucapan dan campuran ngoko–kromo yang amburadul justru membuat dunia yang dibangun film terasa tidak autentik.

Lebih bermasalah lagi, bukan hanya tokoh utama yang salah dalam berbahasa. Hampir seluruh pemeran pendukung tampil tanpa penyesuaian budaya dan linguistik yang seharusnya melekat pada karakter Jawa era 1940-an.

Plot: Janji Iblis, Anak Kembar, dan Teror Balas Dendam

Keinginan pasangan Soedjiman dan Sulastri untuk memiliki anak menjadi titik awal alur cerita. Setelah sekian lama tidak dikaruniai keturunan, Sulastri nekat melakukan perjanjian dengan iblis demi mendapatkan anak kembar bernama Kumala dan Sumala.

Kumala akhirnya lahir dalam kondisi fisik tidak sempurna, sementara Sumala—bayi yang berasal dari benih iblis—dikisahkan meninggal. Sejak itu, kumala menjadi medium kembaran iblisnya yang bangkit dari kematian dan memulai rangkaian teror.

Kisah tragis Kumala semakin diperkuat dengan perlakuan kasar sang ayah dan perundungan anak-anak sekitar. Meski begitu, jika meninjau realitas sosial pada era tersebut, rasanya mustahil anak-anak rakyat jelata berani melecehkan keluarga tuan tanah—sebuah kontradiksi logis yang mengganggu alur film.

Detail Era 1940-an yang Tidak Konsisten

Selain bahasa dan dinamika sosial, detail visual film pun meninggalkan tanda tanya besar. Rumah Soedjiman yang digambarkan sebagai bangunan klasik era kolonial justru dipenuhi elemen modern seperti saklar lampu dan kenop pintu yang tidak mungkin ada di tahun 1940-an, terlepas dari seberapa kaya pemiliknya.

Kesalahan historis semacam ini muncul berulang kali sepanjang durasi film dan mengikis imersi penonton.

Baca juga : Kemah Terlarang dan Kisah Kesurupan Tanpa Intensitas By PausEmpire

Visual Megah Tak Berbanding Cerita

Rizal Mantovani tetap menunjukkan kapasitasnya dalam merangkai visual sinematik yang megah. Sinematografi Enggar Budiono serta musik dari Ricky Lionardi menjadikan Sumala tampil elegan dan mewah.Permainan Di PausEmpire Adalah Website Terbaik Game Online

Sayangnya, begitu masuk ke ranah horor, film kehilangan kekuatan. Parade adegan gore memang hadir berlimpah, tetapi tanpa pembangunan ketegangan yang kuat sehingga hanya terasa sebagai “sensasi sesaat”. Durasi panjang—113 menit—semakin memperjelas lemahnya struktur cerita.

Penampilan Makayla Rose Hilli: Satu-Satunya Cahaya

Dari sekian kekurangan, ada satu elemen yang menyelamatkan Sumala dari kehancuran total: penampilan Makayla Rose Hilli. Aktingnya dalam dua karakter yang berlawanan begitu kuat, intens, dan emosional—bahkan terasa jauh lebih berjiwa dibanding peran orang dewasa di film ini. Secara tidak berlebihan, Sumala bertumpu pada performanya.

Kesimpulan

Sumala adalah horor mahal dengan tampilan mewah, tetapi gagal memaksimalkan potensi ceritanya. Visual, musik, dan atmosfer kuat—namun detail historis, logika cerita, serta eksekusi teror penuh kelemahan. Bagi penonton yang hanya mencari hiburan horor penuh darah dan kemasan megah, Sumala mungkin tetap memuaskan. Namun bagi pencinta cerita yang solid, film ini belum mampu mencapai standar terbaiknya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *