Sehidup Semati: Horor Psikis Indah yang Terjebak Repetisi

Sehidup Semati: Horor Psikis Indah yang Terjebak Repetisi

Sehidup Semati: Horor Psikis Indah yang Terjebak Repetisi

Upi kembali ke wilayah yang pernah ia jelajahi lebih dari satu dekade lalu. Pada 2012, ia merilis Belenggu, film yang kala itu kurang sukses secara komersial. Namun seiring waktu, film tersebut memperoleh pengakuan berkat pendekatan sureal ala David Lynch yang terbilang berani untuk sinema Indonesia.

Kini lewat Sehidup Semati, yang naskahnya disebut telah ditulis sejak 13 tahun lalu, Upi menghadirkan karya yang terasa seperti gema dari Belenggu. Film ini memiliki kekuatan dan kelemahan yang serupa.

Film ini masih mengandalkan atmosfer sureal, tata artistik yang cermat, serta eksplorasi gangguan psikis tokoh utama. Namun sayangnya, kekuatan visual tersebut kembali tidak diimbangi naskah yang cukup luwes untuk menggali konflik lebih dalam.

Baca juga:

Tanduk Setan: Horor Mistis tentang Kelahiran dan Kematian

Oleh: Empire88

Potret Korban KDRT dalam Balutan Horor Sureal

Perbedaan utama Sehidup Semati terletak pada sudut pandangnya. Jika Belenggu berfokus pada sosok pria yang gamang, kali ini Upi menyoroti Renata (Laura Basuki). Ia adalah perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga.

Trauma Renata berakar sejak kecil. Ibunya, yang juga korban KDRT, menanamkan keyakinan bahwa perempuan harus selalu bersabar. Perceraian, menurut sang ibu, adalah perbuatan tercela.

Ajaran itu kini menjerat Renata. Meski Edwin (Ario Bayu) kerap bersikap kasar, Renata memilih bertahan. Ia tetap menjalani rutinitas domestik seolah pernikahannya baik-baik saja. Bahkan ketika apartemen mereka kian tak layak huni, Renata menolak pergi.

Asmara sebagai Antitesis

Perubahan mulai terjadi saat Renata bertemu Asmara (Asmara Abigail). Sosok ini blak-blakan, impulsif, dan sepenuhnya berlawanan dengan Renata. Dengan demikian, Asmara hadir sebagai antitesis dari istri penurut yang terkungkung rasa bersalah.

Sebenarnya, tidak sulit menebak apa yang diwakili oleh karakter Asmara. Namun masalah film ini bukan soal kejutan yang mudah diterka. Sebaliknya, konflik terasa gagal mengikat atensi karena disajikan secara berulang tanpa perkembangan berarti.

Repetisi yang Melelahkan

Selama 108 menit, penonton disuguhkan pola yang sama. Hari dimulai dengan sikap dingin Edwin sebelum bekerja. Setelah itu, Renata sendirian di apartemen dan diteror penampakan wanita misterius lewat jump scare sederhana.

Pola ini terus diulang. Akibatnya, atmosfer yang seharusnya mencekam justru terasa melelahkan. Meski demikian, secara visual film ini nyaris tak pernah mengecewakan.

Sinematografi Yunus Pasolang dan tata artistik Jafar Shiddiq konsisten memanjakan mata. Komposisi gambar terlihat cantik dan pilihan shot terasa unik. Namun ketika twist akhirnya terungkap, penonton tidak benar-benar diajak melalui proses dramatik yang bertahap.

Akting Kuat di Tengah Materi yang Tanggung

Dari sisi akting, Ario Bayu sukses memancing kebencian sebagai suami abusif. Sementara itu, Asmara Abigail memberi energi lewat performa yang liar dan kontras.

Laura Basuki menjadi kekuatan utama film ini. Ia menampilkan olah rasa mendalam sebagai perempuan yang tersiksa secara psikis. Gesturnya menahan takut, marah, dan putus asa dengan efektif.

Sayangnya, totalitas tersebut belum diimbangi materi cerita yang sepadan. Sehidup Semati terasa seperti amalgam yang kurang matang dari horor psikologis era 1960-an karya Roman Polanski, seperti Rosemary’s Baby dan Repulsion.

Akhirnya, Sehidup Semati tampil sebagai film dengan estetika kuat dan akting impresif. Namun repetisi yang berlebihan menggerus daya pukau horor psikis yang ingin dibangunnya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *