Salah satu ciri paling menonjol dari gaya Timo Tjahjanto—meski kerap menuai kritik—adalah keberaniannya menginjak pedal gas tanpa ragu. Film-film seperti Sebelum Iblis Menjemput (2018) dan The Night Comes for Us (2018) nyaris tak memberi ruang bernapas bagi penontonnya. Oleh karena itu, cukup mengejutkan ketika Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 justru hadir sebagai horor yang terasa lebih jinak, lebih pelan, dan cenderung monoton, meski masih menyimpan sejumlah momen menarik.
Pendekatan Baru yang Kurang Menggigit
Kali ini, Timo jelas mencoba pendekatan berbeda. Intensitas kekerasan diturunkan—setidaknya jika dibandingkan standar filmografinya—dan teror tidak lagi disajikan secara membabi buta. Alih-alih nonstop, setiap adegan horor diberi jeda. Secara teori, pendekatan ini bisa berdampak positif. Namun, tanpa alur cerita yang kuat, jeda tersebut justru melemahkan ketegangan. Seperti yang sudah sering terjadi, penulisan cerita kembali menjadi titik lemah utama.
Karakter Baru dan Konflik Lama
Cerita dibuka dengan kemunculan Gadis (Widika Sidmore), yang menceritakan gangguan mistis hingga meninggalkan luka fisik pada dirinya. Dari sana, film kembali mempertemukan kita dengan Alfie (Chelsea Islan) dan Nara (Hadijah Shahab) yang masih berusaha melanjutkan hidup pascatragedi film pertama. Meski waktu telah berlalu, Alfie belum sepenuhnya berdamai dengan masa lalunya. Penampakan-penampakan gaib masih menghantuinya, hingga sebuah insiden penculikan kembali menyeret mereka ke pusaran kutukan.
Ternyata, penculikan tersebut dilakukan oleh Gadis dan kelompoknya, termasuk Budi, Jenar, Kristi, Leo, dan Martha. Tujuan mereka bukan kriminal, melainkan meminta bantuan Alfie untuk mengakhiri kutukan yang mereka alami. Meski premis ini terdengar menjanjikan, beberapa keputusan naskah—seperti penggunaan topeng tanpa urgensi yang jelas—justru terasa janggal.
Baca juga : Tarian Lengger Maut: Potensi Besar yang Berakhir Hampa By PausEmpire
Teror Masih Ada, Tapi Kehilangan Daya Kejut
Sebagaimana film pertamanya, kematian demi kematian tetap hadir. Namun kali ini, ketegangannya jauh berkurang. Timo memang lebih menonjolkan horor supernatural ketimbang gore, yang diwujudkan lewat dominasi jump scare. Dari sisi teknis, jump scare film ini masih di atas rata-rata horor lokal, didukung efek visual dan tata rias yang solid.
Sayangnya, kualitas tersebut belum cukup. Pola kemunculan hantu terasa repetitif: muncul, berpose, lalu menerjang dengan gerakan patah-patah yang sudah terlalu sering digunakan. Akibatnya, rasa seram perlahan memudar. Meski demikian, beberapa momen tetap terasa segar, seperti penggunaan keheningan yang efektif dan eksplorasi visual yang sedikit berbeda dari kebanyakan horor sejenis.
Humor dan Akting: Penyelamat Sekaligus Distraksi
Di tengah repetisi teror, Timo masih menyelipkan humor gelap khasnya. Bagi sebagian penonton, elemen ini bisa menjadi hiburan tambahan, meski bagi yang lain justru terasa mengganggu suasana. Dari sisi akting, ketiadaan Karina Suwandi cukup tertutupi oleh performa Lutesha dan Widika Sidmore. Khususnya Widika, yang tampil over-the-top namun tetap terkontrol di paruh akhir film.Permainan Terbaru Dan Tepercaya Kini Hadir Di PausEmpire
Sebaliknya, Chelsea Islan terlihat berusaha terlalu keras menampilkan sosok Alfie yang tangguh. Intensitas emosinya sering kali berlebihan, sehingga alih-alih meyakinkan, justru terasa canggung di beberapa momen.
Kesimpulan
Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 bukanlah film horor yang buruk. Namun, sebagai karya lanjutan dari film pertama yang agresif dan tanpa kompromi, sekuel ini terasa melambat dan kehilangan taji. Terornya masih ada, visualnya tetap solid, tetapi minim payoff emosional. Bagi penggemar Timo Tjahjanto, film ini tetap layak ditonton, meski mungkin tidak akan meninggalkan kesan sekuat pendahulunya.

