Horor Indonesia yang Tak Lagi Menakutkan
Film horor Indonesia kerap menampilkan sosok hantu yang, alih-alih menakutkan, justru terasa menggelitik. Dalam
Sebelum Dijemput Nenek, pendekatan ini dilakukan secara sadar. Para lelembut tak lagi menjaga wibawa
sebagai penebar teror, melainkan tampil sebagai sumber komedi absurd yang mengundang tawa.
Kematian Mbah Siyem dan Pertemuan Dua Cucu
Kisah bermula dari kematian Mbah Siyem (Sri Isworowati), salah satu warga Dusun Wangun. Kepergian sang nenek memaksa
dua cucu kembarnya, Hestu (Angga Yunanda) dan Akbar (Dodit Mulyanto), untuk kembali bertemu setelah lama berseteru.
Meski kembar, perbedaan fisik keduanya sangat mencolok. Sejak awal, hal ini menjadi sumber humor utama dalam cerita
dan memancing tawa penonton.
Baca juga:
Review Paranormal Activity 2: Lebih Seram tapi Kurang Baru
Oleh: Empire88
Logika Dikesampingkan demi Komedi
Film ini tak berusaha menjelaskan kejanggalan tersebut secara logis. Sebagaimana komedi pada umumnya, logika bukan
prioritas utama. Naskah karya Fajar Martha Santosa dan Sandi Paputungan memanfaatkan ketimpangan ini sebagai bahan
lelucon.
Namun demikian, masih terdapat ruang untuk mengeksplorasi absurditas yang lebih jauh. Kesempatan tersebut sayangnya
tidak sepenuhnya dimanfaatkan.
Teror Tujuh Hari Sang Nenek
Selepas pemakaman, ketenangan yang diharapkan tak kunjung datang. Sebaliknya, hantu Mbah Siyem menampakkan diri dan
memberi pesan mengerikan. Ia mengaku akan menjemput kedua cucunya dalam tujuh hari.
Karena itu, Hestu dan Akbar meminta bantuan Kotrek (Oki Rengga), preman kampung setempat. Mereka juga ditemani Nisa
(Wavi Zihan), teman masa kecil Hestu, untuk menggagalkan penjemputan tersebut.Permainan Terbaik Kini Hadir Dengan Tampilan Terbaru
Hanya Bermain Dengan Depi 10k Pasti Akan Wd Besar Hanya Di Empire88
Horor Generik yang Ditutup Komedi
Dari sisi horor, Sebelum Dijemput Nenek menampilkan pola yang cukup generik. Penampakan mendadak dan
suara berisik terasa mudah ditebak. Namun, kekurangan ini tertutup oleh banyolan kreatif khas komedi tongkrongan Jawa.
Bahkan hingga credit scene, film ini tetap konsisten mengecoh ekspektasi penonton dengan humor yang lepas dan spontan.
Masalah Logat dan Akting
Sayangnya, film ini masih terjebak kebiasaan sinema arus utama Indonesia. Dialog Bahasa Jawa dipaksakan kepada aktor
non-Jawa. Oki Rengga sudah berusaha keras, tetapi logatnya tetap terdengar janggal.
Hal serupa dialami Wavi Zihan, terutama saat berdialog dramatis. Intonasinya kerap mengingatkan pada gaya sinetron.
Karakter Nisa dan Kejutan Cerita
Meski begitu, Wavi Zihan berhasil menebus kekurangan tersebut melalui karakter Nisa. Ia menjadi salah satu sumber
humor paling menonjol dalam film ini.
Selain itu, perubahan karakter Nisa setelah sebuah twist terasa segar dan menunjukkan keberanian film dalam bermain
dengan ekspektasi penonton.
Twist Akhir dan Puncak Keabsurdan
Beberapa twist lain muncul di bagian akhir sebagai upaya memberi resolusi dramatis. Namun, penyelesaiannya terasa
kurang solid karena kilas balik yang tak sepenuhnya memperkuat penokohan.
Beruntung, humor tetap menjadi penyelamat utama film ini. Puncak keabsurdan hadir ketika Dusun Wangun dilanda serbuan
maut yang meminjam formula film zombi dan memadukannya dengan mistisisme lokal.
Kesimpulan
Sebelum Dijemput Nenek mungkin bukan film horor yang menakutkan. Akan tetapi, keberaniannya merangkul
komedi absurd dan humor Jawa menjadikannya tontonan yang menghibur dan terasa berbeda di tengah ramainya film horor
Indonesia.

