Review Kuntilanak 3: Eksperimen Fantasi yang Inkonsisten

Review Kuntilanak 3: Eksperimen Fantasi yang Inkonsisten

Seri terbaru Kuntilanak 3 kembali menegaskan keberanian waralaba ini untuk menjauh dari akar horor klasiknya. Setelah menghadirkan horor anak pada film pertama dan sentuhan fantasi ringan di film kedua, Kuntilanak 3 melangkah lebih jauh dengan bertransformasi penuh menjadi film fantasi ala Wizarding World. Sebuah pendekatan yang terbilang berani dan jarang dijajal dalam perfilman Indonesia, meski sayangnya belum sepenuhnya solid dari sisi eksekusi.

Baca juga:

The Doll 3: Teror Brutal Boneka Bobby ala Rocky Soraya

Oleh: Empire88

Dari Horor ke Dunia Fantasi

Tokoh utama Dinda (Nicole Rossi) kembali menjadi pusat cerita. Ia dianggap aneh oleh lingkungannya karena memiliki kekuatan telekinesis, bahkan secara tidak sengaja melukai Panji (Adlu Fahrezy) dan Ambar (Ciara Brosnan). Tekanan tersebut membuat Dinda semakin meyakini bahwa dirinya berbahaya.

Keputusan Dinda untuk masuk ke Sekolah Mata Hati, sebuah sekolah cenayang, menjadi titik awal perubahan besar arah cerita. Di tempat inilah ia belajar mengendalikan kekuatannya sekaligus mengenal anak-anak dengan kemampuan supranatural lain, mulai dari Dennis yang bisa menciptakan api, Uchi dengan kemampuan teleportasi, hingga Mala sang penyembuh.

Sekolah Mata Hati dan Dunia Baru Kuntilanak

Masuk ke Sekolah Mata Hati terasa seperti memasuki dunia baru dalam film Indonesia. Tata artistik yang rapi, desain produksi yang penuh warna, serta scoring bernuansa magis dari Stevesmith Music Production berhasil membangun atmosfer fantasi yang cukup meyakinkan.

Kehadiran para pengajar dan pengelola sekolah dengan penampilan eksentrik semakin memperkuat kesan tersebut. Baskara (Wafda Saifan) sebagai kepala sekolah, Adela (Nafa Urbach), Bejo (Amink), hingga Eyang Sukma (Sara Wijayanto) menjadi bagian penting dari dunia fantasi yang sedang dibangun. Kostum Sara Wijayanto pada klimaks film patut diapresiasi sebagai salah satu elemen visual paling menonjol.

Masalah Utama: Inkonsistensi Cerita

Sayangnya, keberanian konsep ini tidak sepenuhnya diimbangi dengan konsistensi naskah. Skenario karya Alim Sudio memiliki ide dunia yang kreatif, namun terasa kewalahan saat memperluas mitologi. Beberapa konflik muncul tanpa fondasi yang kuat, seperti keberadaan wartawan yang dengan mudah mengetahui rahasia Sekolah Mata Hati yang seharusnya tersembunyi.

Alur cerita juga kerap terasa tidak seimbang. Di satu sisi film mampu menghadirkan momen visual yang menarik, namun di sisi lain terasa longgar dalam pengembangan konflik dan logika dunia.

Penyutradaraan dan Klimaks yang Kurang Maksimal

Rizal Mantovani kembali duduk di kursi sutradara dan dengan tegas meninggalkan pendekatan horor konvensional. Jump scare ditekan, dan sosok kuntilanak lebih difungsikan sebagai antagonis fantasi ketimbang elemen penakut bagi penonton.

Walau didukung CGI berkualitas dan keberanian menampilkan kuntilanak secara jelas, pea spektakuler menjadi kurang menggigit. Terlebih lagi, solusi untuk mengalahkan kuntilanak terasa terlalu sederhana dan baru diperkenalkan di saat genting.

Akting dan Potensi Lanjutan Franchise

nyutradaraan Rizal masih menemui kendala saat membangun adegan berintensitas tinggi. Beberapa pilihan shot dalam adegan aksi terasa canggung, sehingga klimaks yang seharusny

Di tengah segala kelemahannya, akting Nicole Rossi menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Ia mampu membawa karakter Dinda dengan emosi yang cukup kuat, membuat penonton tetap terikat meski alur cerita cenderung melambat.

Kuntilanak 3 memang film yang inkonsisten. Konsepnya unik dan berani, namun alur yang draggy serta eksekusi yang belum rapi membuat potensinya belum sepenuhnya tergarap. Meski begitu, film ini tetap membuka ruang penasaran tentang arah eksplorasi berikutnya dari semesta Kuntilanak, terlebih dengan kejutan kecil yang muncul di kredit akhir.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *