Puisi Cinta yang Membunuh: Horor Artsy Tanpa Teror
Puisi Cinta yang Membunuh mencoba tampil sebagai horor artsy dengan pendekatan sinematik dan estetika puitis, namun plot yang berlebihan serta eksekusi yang minim rasa takut membuat film ini kehilangan ruh ketegangan yang seharusnya menjadi inti dari genre horor.
Horor yang Sulit Dibuat, Namun Mudah Diremehkan
JAFF 2022 memperlihatkan kembali satu kenyataan: horor merupakan salah satu genre tersulit dan sekaligus paling sering diremehkan. Banyak pembuat film ingin “menaikkan kelas” horor ke ranah seni tinggi—sering disebut sebagai elevated horror—tetapi tanpa pemahaman mendalam terhadap esensi horor, hasilnya justru tidak menggigit.
Garin Nugroho adalah nama besar dalam dunia sinema Indonesia, namun kali ini ia terperosok ke lubang yang sama dengan percobaan serupa sebelumnya.
Ambisi Besar, Gaya Visual Berlebihan
Bertumpu pada buku kumpulan puisi Adam, Hawa, dan Durian karya Garin sendiri, film ini mencoba memadukan gaya Carrie dan Suspiria dengan estetika khas sang sineas. Tetapi perpaduan tersebut lebih terasa sebagai parodi daripada penghormatan.
Tokoh utama Ranum (Mawar de Jongh) berada di pusat misteri pembunuhan, namun perjalanan emosinya tidak pernah sepenuhnya menarik penonton masuk.
Film ini memang berani dalam menampilkan kekerasan dan sadisme, dan pada titik-titik itulah Puisi Cinta yang Membunuh mencapai momen terbaiknya. Sayangnya, keberanian tersebut tidak bertahan lama karena cerita berulang kali berbelok ke arah lain tanpa fondasi naratif yang kuat.
Baca juga : Tumbal Kanjeng Iblis: Ambisi Horor yang Berakhir Gagal By NagaEmpire
Eksplorasi Seksualitas yang Tidak Organik
Elemen seksualitas, ciri khas karya Garin, kembali dimunculkan. Namun kali ini terasa dipaksakan seolah hanya demi memberi label “dewasa” pada film. Male gaze begitu dominan hingga mengaburkan kedalaman karakter dan tema. Adegan demi adegan terpampang sensasional namun tidak memberi kontribusi pada perkembangan cerita maupun psikologi karakter.
Perubahan Alur Tanpa Tujuan
Alih-alih fokus pada penguatan teror dan pembangunan karakter, film memasuki babak romansa, drama keluarga, hingga trauma psikologis. Bahkan kehadiran karakter pendukung seperti Ayu Laksmi dan Raihaanun terasa lebih menarik dibanding perjalanan protagonisnya sendiri.
Pergantian tonenya terlalu drastis dan membuat film kehilangan arah serta tensi horornya.Permainan Seru Dan Membuat Ketagihan Hanya Di NagaEmpire
Tema Dualisme yang Tidak Tuntas
Film ingin berbicara soal dualisme manusia—terang dan gelap dalam diri—namun eksplorasinya hanya menjadi estetika permukaan. Trauma digambarkan terlalu sederhana: cukup dengan keberanian atau cinta romantis, semuanya seolah dapat hilang begitu saja. Kesimpulan semacam itu justru melemahkan pesan film.
Kesimpulan
Puisi Cinta yang Membunuh memiliki visi besar, tetapi gagal mengeksekusinya. Teror tidak pernah menyentuh psikologis penonton, horor hanya menjadi ornamen visual, dan eksplorasi tematik tidak pernah mendalam. Ketika sebuah film horor sibuk membuktikan diri bahwa ia “berkelas”, unsur dasarnya justru menghilang.
Bila ada yang “dibunuh” dalam film ini, itu bukan para karakter di layar — melainkan kepercayaan penonton terhadap horor yang seharusnya menghadirkan rasa takut, bukan sekadar gaya.

