Salah satu penyebab stagnasi kualitas film horor Indonesia kerap berakar pada minimnya referensi. Entah demi mengikuti selera pasar atau karena keterbatasan eksplorasi, banyak horor lokal akhirnya terasa seragam. Hingga akhirnya Charles Gozali hadir lewat Qodrat, yang memadukan horor religi dengan elemen martial arts dan memberi angin segar.
Meski tidak sepenuhnya serevolusioner Qodrat, Pemukiman Setan lahir dengan semangat serupa. Film ini mencoba memodifikasi formula horor Indonesia yang sudah usang melalui pendekatan visual, gore, dan aksi bela diri yang jarang ditemui di genre sejenis.
Teror Berakar dari Masa Lalu Kelam
Film dibuka dengan adegan kilas balik ke era kerajaan Jawa. Seorang dukun bernama Mbah Sarap (Putri Ayudya) dihabisi di hadapan massa. Sejak awal, musik mencekam dan eksekusi gore yang solid langsung mencuri perhatian. Adegan ini bukan sekadar pembuka, tetapi menjadi fondasi kutukan yang menghantui cerita hingga masa kini.
Baca juga:
Kereta Berdarah, Horor Sosial dengan Visual Mencekam
Oleh:
Rumah Terlarang dan Perburuan yang Berbalik Arah
Di masa sekarang, penonton diperkenalkan pada Alin (Maudy Effrosina), seorang kakak yang harus bertahan hidup setelah kehilangan orang tuanya. Tekanan ekonomi memaksanya mengajak Gani (Bhisma Mulia), Fitrah (Daffa Wardhana), dan Zia (Ashira Zamita) merampok sebuah rumah misterius.
Namun, rencana itu berubah menjadi mimpi buruk. Seperti gabungan Don’t Breathe dan Evil Dead, rumah tersebut menutup semua jalan keluar, menghadirkan fenomena ganjil, dan mempertemukan mereka dengan sosok wanita misterius (Adinda Thomas). Para pemburu pun berubah menjadi target buruan.
Horor Konvensional yang Perlahan Berkembang
Paruh pertama Pemukiman Setan masih bergerak di jalur horor konvensional. Konsep “kutukan cacing” cukup unik, didukung perpaduan efek praktikal dan CGI yang rapi. Charles Gozali juga cermat mengolah latar sempit agar tidak terasa monoton.
Meski demikian, beberapa adegan berjalan terlalu lama dan sedikit menggerus intensitas. Untungnya, film tidak sampai terasa melelahkan sebelum memasuki titik balik penting.
Urip dan Transformasi Menuju Martial Arts
Titik balik itu datang lewat kehadiran Urip (Teuku Rifnu Wikana), seorang paranormal yang menyelidiki kutukan Mbah Sarap. Berbeda dari dukun horor pada umumnya, Urip tampil nyeleneh, ceplas-ceplos, dan menjadi sumber humor yang efektif tanpa merusak tone film.Permainan Terbaru Kini Hadir Di Rajabotak Depo 5k Bisa Menang Banyak
Naskah dengan cermat membatasi elemen komedi hanya pada karakter Urip. Alhasil, keseimbangan antara horor, humor, dan ketegangan tetap terjaga.
Horor Bertemu Aksi Bela Diri
Sejak Urip memperkenalkan pusaka untuk mengakhiri kutukan, Pemukiman Setan berubah drastis. Paruh keduanya dipenuhi aksi martial arts, bahkan berbasis senjata. Adegan-adegan pertarungan terasa segar—jarang ada film horor lokal yang merespons kemunculan setan dengan pukulan beruntun ke wajahnya.
Maudy Effrosina tampil meyakinkan sebagai pendekar pedang, dengan sorot mata tajam yang menambah wibawa karakternya. Adinda Thomas mencuri perhatian sebagai setan cerewet, sementara Putri Ayudya tetap berkesan meski muncul singkat. Daffa Wardhana pun terlihat lebih luwes dibandingkan peran-peran sebelumnya.
Kesimpulan: Tidak Sempurna, tapi Penuh Energi Baru
Pemukiman Setan memang belum setara dengan Qodrat dan masih memiliki kekurangan—termasuk pemilihan lagu yang terasa janggal. Namun sebagai karya yang berdiri sendiri, film ini berhasil menawarkan sesuatu yang berbeda.
Charles Gozali kembali membuktikan kapasitasnya dalam menyuntikkan kesegaran ke industri horor Indonesia. Di tengah dominasi formula lama, Pemukiman Setan hadir sebagai bukti bahwa horor lokal masih punya ruang untuk bereksperimen dan berkembang.

