Oma the Demonic dan Potret Buram Horor Indonesia

Oma the Demonic dan Potret Buram Horor Indonesia

Jika dibandingkan dengan genre lain, film horor Indonesia kerap terkesan stagnan. Salah satu penyebab utamanya adalah status horor sebagai ladang uang yang relatif aman: biaya produksi minim, potensi balik modal besar. Fakta ini sering diterjemahkan secara keliru oleh para pembuatnya menjadi prinsip pragmatis, “kalau jelek saja laku, mengapa harus bagus?” Alasan kedua lebih mendasar—horor yang efektif membutuhkan pembuat yang bukan sekadar sering menonton, tetapi benar-benar mencintai dan memahami genrenya. Tak heran jika nama-nama seperti Joko Anwar dan Timo Tjahjanto, yang memang horror aficionado, mampu berdiri di garis depan.

Sayangnya, Joel Fadly tampaknya bukan bagian dari barisan tersebut. Menyaksikan Oma the Demonic, juga karya sebelumnya Nightmare Side: Delusional (2019), sulit menemukan jejak ketertarikan mendalam terhadap horor. Kengerian terbesar justru lahir bukan dari isi film, melainkan dari kesadaran bahwa ada sineas yang menganggap pendekatan semacam ini sudah cukup layak disebut horor bagus. Fakta semacam itu jauh lebih menakutkan ketimbang sosok hantu mana pun di layar.

Premis Klise, Eksekusi Tanpa Nyawa

Kisahnya mengikuti Fiona (Karina Nadila), yang kerap mendapat penglihatan tentang sosok wanita misterius yang memintanya datang ke rumah sang Oma (Jajang C. Noer). Padahal, belakangan Fiona jarang berkomunikasi dengan neneknya, meski semasa kecil mereka sangat dekat. Ditemani dua sahabatnya, Luna (Syahra Larez) dan Jeff (Bobby Rizky), Fiona memutuskan berkunjung—tanpa mengetahui bahwa misteri mematikan telah menunggu.

Figur nenek memang kerap menjadi sumber teror dalam film horor, berangkat dari kontras antara citra penyayang dan rahasia kelam di baliknya. Jajang C. Noer sejatinya sangat cocok memerankan karakter semacam ini. Senyum hangatnya bisa berubah menjadi kejanggalan yang mengusik. Karina Nadila pun, di beberapa momen, menunjukkan bahwa ia layak mendapatkan materi yang lebih baik—meski bakat terkuatnya tetap bersinar di ranah komedi.

Upaya Menakut-nakuti yang Melelahkan

Sayangnya, di luar dua nama tersebut, nyaris tak ada nilai positif lain yang bisa diselamatkan. Setiap lima menit, film ini berusaha menakut-nakuti penonton—dan hampir selalu gagal. Adegan yang seharusnya bisa diambil langsung di lokasi malah bergantung pada green screen, sementara monster CGI tampil absurd, lebih menyerupai hasil eksperimen setengah matang ketimbang sumber teror.

Pada titik tertentu, rasa takut berubah menjadi kesadaran pahit: menonton film ini berarti menghamburkan uang. Alih-alih tegang, yang tersisa hanya kelelahan menyaksikan usaha jump scare yang terus-menerus meleset.

Kekacauan Teknis dan Artistik

Pilihan shot yang ngawur, kegagalan memahami ritme horor, serta timing yang berantakan—mulai dari masuknya musik hingga penempatan reaction shot—semuanya hadir tanpa kontrol. Desain hantu pun terasa asal, seakan mengambil inspirasi dari riasan prank murahan. Bahkan, konflik dengan makhluk supernatural diselesaikan dengan cara absurd: melempar barang, seolah yang dihadapi adalah maling, bukan entitas gaib.

Alih-alih terlihat mengancam, sosok hantunya justru tampak “menikmati” situasi. Ketegangan pun lenyap sebelum sempat terbentuk.

Naskah Tanpa Arah dan Twist yang Hambar

Naskah karya Anang Pangestu memperparah keadaan. Timeline yang kacau menciptakan kerumitan tak perlu, sementara sejumlah elemen cerita dimasukkan tiba-tiba tanpa eksplorasi atau dampak emosional. Termasuk di antaranya subplot mengenai ibu Fiona yang diperankan Diah Permatasari dalam cameo yang terasa menggelikan alih-alih bermakna.

Sebagai penutup, tentu ada twist. Namun alih-alih mengejutkan, twist tersebut justru memunculkan dialog ganjil antara dua arwah penasaran yang sama-sama terkejut melihat mata mereka berubah putih. Alih-alih klimaks, yang tercium justru aroma kebusukan sinema.

Kesimpulan

Oma the Demonic menjadi cerminan buram stagnasi horor Indonesia: produksi asal jadi, ketergantungan pada jump scare, CGI seadanya, dan naskah tanpa visi. Film ini bukan sekadar gagal menakutkan, tetapi juga menunjukkan betapa rendahnya standar yang masih dianggap cukup oleh sebagian pembuat. Sebuah tontonan yang lebih menyeramkan sebagai gejala industri, ketimbang sebagai karya horor itu sendiri.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *