Pendahuluan
Kemah Terlarang: Kesurupan Massal hadir dengan premis menarik: sebuah kisah yang terinspirasi dari peristiwa nyata kesurupan massal di Yogyakarta pada tahun 2016. Film ini sejak awal tampak ingin menggabungkan horor budaya dengan pengalaman autentik masyarakat Jawa. Namun sayangnya, keautentikan budaya yang begitu kuat tidak didukung oleh penceritaan yang solid. Alhasil, film ini berakhir sebagai tontonan yang beridentitas kuat secara kultural, tetapi rapuh secara naratif.
Autentisitas Budaya Jawa yang Kuat dan Menonjol
Salah satu kekuatan terbesar film ini adalah usahanya menghadirkan elemen budaya Jawa secara autentik. Tidak hanya dari sisi cerita, tetapi juga melalui dialog yang dituturkan para karakternya.
Bahasa Jawa yang diucapkan para aktor terdengar natural, tidak dipaksakan. Banyak pemerannya memang berasal dari Jawa, tetapi pemain luar seperti Derby Romero pun menjalani perannya dengan cukup baik. Meski masih kadang terselip logat Jakarta, penggunaan bahasa kromo yang ia lontarkan tetap terasa meyakinkan.
Derby memerankan Heru, pembina dalam kegiatan kemah yang menjadi arena terjadinya serangkaian kesurupan. Para tokoh lain—Miko (Fatih Unru) dan Rini (Callista Arum)—juga didesain untuk merepresentasikan kisah remaja Jawa yang berusaha mencari jati diri.
Kekuatan kultural ini diperkuat melalui elemen-elemen klenik—mulai dari weton, legenda Roro Putri, hingga dinamika masyarakat Jawa yang sangat mempercayai interaksi antara manusia dan dunia tak kasat mata. Elemen tersebut tidak sekadar menjadi aksesori, tetapi benar-benar dijadikan bagian dari struktur cerita.
Awal yang Menjanjikan: Mencekam Tanpa Jumpscare Murahan
Film ini sebenarnya menunjukkan potensi besar saat peristiwa kesurupan pertama terjadi. Adegan “siswa kesurupan jadi jago semafor” yang di atas kertas terdengar absurd, justru berhasil disulap menjadi momen yang benar-benar mengerikan.
Sutradara Ginanti Rona mampu membangun suasana pedih dan kasihan, terutama ketika melihat seorang anak tak berdaya melukai dirinya sendiri. Menariknya, film ini tidak bergantung pada jumpscare keras dan berlebihan—sebuah keputusan yang patut diapresiasi.
Namun, sayangnya potensi tersebut tidak bertahan lama.
Masalah Utama: Alur Stagnan dan Minim Intensitas
Setelah awal yang kuat, film mulai kehilangan arah. Alur stagnan, dan intensitas yang seharusnya terus meningkat justru menghilang. Deretan kesurupan berikutnya terasa seperti daftar kewajiban:
-
Kesurupan sambil menari? ✔️
-
Kesurupan sambil meminta dipakaikan kafan? ✔️
-
Kesurupan sambil mengamuk? ✔️
Namun tidak ada pembangunan suasana yang memadai. Tidak ada urgensi. Tidak ada peningkatan eskalasi yang seharusnya menjadi inti dari film horor. Setiap kejadian hanya lewat, tanpa dampak emosional yang signifikan.
Hasilnya, antiklimaks pun menjadi tak terhindarkan.
Baca juga : Angkara Murka: Ketamakan Manusia Lebih Mengerikan By PausEmpire
Potensi Besar yang Tidak Digali
Salah satu aspek paling menjanjikan adalah pementasan drama Roro Putri yang diarahkan Heru. Jika bagian ini digali lebih dalam, film bisa menelusuri hubungan menarik antara seni tradisional, budaya mistis, dan identitas masyarakat Jawa—tema yang sangat “Jogja”.
Sayangnya, naskah memilih jalur yang lebih generik. Beberapa elemen bahkan terasa mirip dengan KKN di Desa Penari, seperti:
-
Lokasi pedesaan misterius
-
Sosok perempuan mistis yang menari
-
Kehadiran ular sebagai elemen teror
Perbandingan ini semakin mempertegas kurangnya keunikan dalam penceritaan.
Masalah Struktur Cerita: Flashback yang Tidak Dimanfaatkan
Film dibuka dengan adegan seorang jurnalis yang mewawancarai Miko tentang peristiwa kesurupan massal. Format ini seharusnya membuka ruang untuk pendekatan investigatif atau dokumenter—namun potensi tersebut tidak pernah dimanfaatkan.
Setelah adegan awal, penonton tidak pernah kembali ke momen wawancara hingga akhir film. Bahkan voice over Miko yang muncul hanya sekali terasa diselipkan paksa, seolah untuk mengingatkan penonton bahwa semuanya sedang diceritakan sebagai kilas balik. Struktur yang janggal ini justru membuat alurnya terasa timpang dan kurang fokus.Permainan Terbaik Hanya Di PausEmpire
Kesimpulan
Kemah Terlarang: Kesurupan Massal adalah film dengan kekuatan budaya yang solid, terutama melalui penggunaan bahasa Jawa dan elemen klenik yang autentik. Namun nilai positif tersebut tidak cukup menutupi alur yang stagnan, minim intensitas, dan struktur cerita yang kurang matang.
Film ini memiliki potensi besar—bahkan sangat besar—tetapi sayangnya banyak dari potensi itu dibiarkan menguap begitu saja. Alhasil, film ini tidak mampu menghadirkan pengalaman horor yang maksimal, meski fondasi budayanya sangat kuat.
Jika saja cerita dan pengembangannya dieksekusi lebih mendalam, mungkin Kemah Terlarang bisa menjadi salah satu horor budaya terbaik dari Yogyakarta. Namun untuk saat ini, ia tetap menjadi tontonan yang kaya budaya, tetapi miskin intensitas.

