Sebagaimana di Turah yang ia lahirkan hampir satu dekade lalu, Wicaksono Wisnu Legowo—kali ini sebagai salah satu penulis naskah Kampung Jabang Mayit—kembali menghadirkan potret desa kecil dengan jumlah penduduk yang bisa dihitung jari, hidup dalam bayang-bayang kemiskinan struktural. Perbedaannya, kehancuran kali ini tak hanya bersumber dari realitas sosial, melainkan juga dari kekuatan gaib yang secara terang-terangan menampakkan diri. Mistisisme dalam film ini tak bersembunyi di balik gelap malam, sebab kegelapan justru hadir di bawah cahaya matahari yang tak pernah benar-benar pergi.
Julukan “Midsommar dengan kearifan lokal” terasa cukup relevan untuk menggambarkan Kampung Jabang Mayit. Film ini bernaung dalam payung folk horror berlatar Desa Rangkaspuna, sebuah tempat yang seolah terkutuk secara historis. Pada tragedi pembantaian 1965, desa ini dikenal sebagai lokasi pembuangan mayat. Kini, tanpa pernah menampilkan malam hari, film justru memancarkan rasa muram yang konstan, menegaskan bahwa trauma kolektif tak selalu membutuhkan kegelapan visual untuk terasa menyesakkan.
Cerita berpusat pada Weda (Ersya Aurelia), seorang foto model yang tengah menikmati puncak kariernya. Kebahagiaan itu ternodai oleh kehamilan hasil hubungan rahasia dengan Bagas (Bukie B. Mansyur), fotografer sekaligus kekasihnya. Demi menjaga masa depan Weda, Bagas mengusulkan aborsi—dan mengajak Weda melakukannya di kampung halamannya, Desa Rangkaspuna. Sebuah pilihan yang sejak awal terasa ganjil, sekaligus mengundang kecurigaan.
Baca juga : Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2: Teror yang Melambat By Empire88
Alasan pemilihan desa tersebut perlahan terungkap. Rangkaspuna dikenal sebagai pusat praktik aborsi berkat kesaktian Ni Itoh (Atiqah Hasiholan). Melalui ritual pengorbanan jabang bayi, warga desa percaya mereka bisa mengundang berkah dan keluar dari jurang kemiskinan. Ironinya, praktik ini seolah mengulang kekerasan masa lalu: tubuh manusia kembali dijadikan tumbal, hanya dengan dalih yang berbeda. Film ini dengan halus menyinggung lingkaran kekerasan yang diwariskan lintas generasi.Permainan Terbaik Dan Tepercaya Hanya Di Empire88
Meski berlatar tahun 1989, dialog para karakternya kerap terasa aneh karena dipenuhi gaya tutur modern yang menyerupai sinetron masa kini. Pertengkaran antara Weda dan Bagas mengenai kehamilan mereka terdengar melodramatis dan penuh rayuan manipulatif. Alih-alih memperkuat konteks zaman, hal ini justru sedikit mengganggu imersi. Namun, secara tematis, dinamika relasi toxic keduanya tetap tersampaikan dengan jelas.
Seperti Dani dalam Midsommar, perjalanan Weda menuju desa terpencil menjadi proses penyadaran pahit akan hubungan yang merugikannya. Sayangnya, Kampung Jabang Mayit masih sesekali terjebak pada penggunaan jumpscare generik. Walau jumlahnya tidak berlebihan, sebagian teror visual terasa kurang berani mengeksplorasi potensi folk horror yang lebih subtil.
Salah satu momen paling efektif hadir ketika Weda diganggu sosok yang meniru wujud Guna (Rasya Yoga), anak dari Rini (Rachquel Nesia Gusti Gaza). Adegan ini bekerja tanpa wajah menyeramkan, tanpa dentuman suara, dan tanpa penyuntingan agresif. Hanya kesunyian dan kesadaran akan kejanggalan yang perlahan merayap. Di sinilah arahan Wisnu Suryapratama menunjukkan kepekaan atmosferik yang kuat.
Ritual klimaks yang berlatar patung raksasa simbol siklus kelahiran dan kematian menjadi puncak kengerian film. Atiqah Hasiholan tampil magnetis sebagai Ni Itoh, membangun teror lewat gestur dan kehadirannya yang dominan. Yudi Ahmad Tajudin sebagai Ki Jaka, dengan topeng “babi dari neraka” dan tabuhan perkusi ritual, semakin menegaskan nuansa pagan yang mengganggu.
Diadaptasi dari utas viral karya Qwertyping alias Teguh Faluvie, film ini berdurasi singkat—92 menit—dan menolak basa-basi. Cerita bergerak lurus tanpa subplot berlebihan, menjaga fokus pada atmosfer Desa Rangkaspuna dan tragedi yang mengitarinya. Skalanya kecil, namun justru di situlah kekuatannya: membuktikan bahwa horor lokal tak selalu harus bombastis untuk meninggalkan kesan mendalam.
Kampung Jabang Mayit mungkin belum sepenuhnya lepas dari formula horor konvensional, tetapi keberaniannya mengusung folk horror dengan kritik sosial yang kelam menjadikannya tontonan yang patut diperhitungkan. Sebuah film yang menunjukkan bahwa kengerian terbesar sering kali berakar dari sejarah, kemiskinan, dan manusia itu sendiri.

