Kimo Stamboel dan Daya Jual Horor
Ivanna menjadi film terlaris dari semesta Danur, dan jika tak terhalang horror fatigue, Jailangkung: Sandekala berpeluang menyusul sebagai film Indonesia kesebelas tahun ini yang menembus satu juta penonton. Catatan box office Dreadout dan Ratu Ilmu Hitam beberapa tahun lalu juga membuktikan bahwa nama Kimo Stamboel masih punya daya tarik kuat. Dengan modal itu, wajar bila muncul harapan agar Kimo kembali ke akar yang membesarkan namanya: slasher.
Dan Sandekala memang bergerak ke arah sana.
Homage Slasher yang Terselubung
Hati Kimo jelas tertambat pada subgenre slasher. Ivanna sudah memberi sinyal, sementara Jailangkung: Sandekala secara mengejutkan menyelipkan homage ke salah satu film slasher paling berpengaruh era 80-an. Petunjuknya tersebar rapi: pemilihan lokasi, latar belakang karakter, twist cerita, hingga jenis senjata yang digunakan di klimaks.
Eksekusinya memang belum sepenuhnya mulus, tetapi dibanding dua film Jailangkung sebelumnya yang kualitasnya jauh dari kata memuaskan, Sandekala tetap berdiri sebagai yang terbaik di serinya.
Misteri Anak Hilang dan Senja yang Terlarang
Alih-alih melanjutkan karakter lama, film ini memperkenalkan keluarga baru—dengan satu kaitan kecil yang mengesahkan statusnya sebagai sekuel, atau jika ingin lebih lunak, soft reboot. Teror dimulai saat Kinan (Muzakki Ramdhan), putra bungsu Adrian (Dwi Sasono) dan Sandra (Titi Kamal), menghilang ketika keluarga mereka singgah di sebuah danau dalam perjalanan darat.
Naskah buatan Kimo bersama Rinaldy Puspoyo mencoba merangkai misteri dari berbagai elemen: kasus anak hilang, larangan keluar rumah saat sandekala, serta praktik jailangkung itu sendiri. Secara konsep, peleburan investigasi rasional dan mistisisme lokal ini terdengar menjanjikan.
Baca juga : Jagat Arwah: Fantasi Besar Eksekusi Sempoyongan By NagaEmpire
Mantra yang Akhirnya Kembali Mistis
Satu peningkatan nyata dari film ini terletak pada aspek mitologi jailangkung, khususnya soal mantra. Kendala hak cipta memaksa penggunaan frasa “Datang gendong, pulang bopong” yang selama ini terasa antiklimaks. Keputusan menerjemahkannya ke dalam Bahasa Sunda adalah langkah cerdik: terasa berbeda, tetap familiar, dan yang terpenting, mengembalikan aura mistis yang sempat hilang.
Masalah Lama: Naskah yang Keteteran
Sayangnya, peningkatan itu tak diimbangi kekuatan penceritaan. Eksplorasi misteri disajikan mentah, mitologi sandekala hanya berfungsi sebagai dekorasi, dan aturan main jailangkung terasa rancu. Akibatnya, alur cerita berjalan pincang.Permainan Seru Hanya Di NagaEmpire
Drama keluarga yang sempat dibangun dengan menjanjikan pun akhirnya menguap begitu saja, tanpa pengembangan berarti. Ini terasa sebagai pemborosan talenta, terutama untuk aktor sekelas Titi Kamal dan Syifa Hadju yang sebenarnya mampu memberi bobot emosional lebih besar.
Menolak Jump Scare Murahan
Kimo jelas tidak tertarik membuat horor berbasis cheap thrills. Jumlah jump scare ditekan, begitu pula kemunculan penampakan. Desain hantunya justru cukup menarik—perpaduan antara sosok menyeramkan ala Mulholland Drive dan Creeper dari Jeepers Creepers, dibungkus tata rias solid.
Masalahnya, keinginan kuat untuk bercerita tidak sepenuhnya ditopang oleh naskah yang matang. Ambisi ada, tapi fondasinya rapuh.
Klimaks: Slasher Akhirnya Melepas Rem
Barulah di babak akhir Kimo Stamboel benar-benar “pulang”. Jailangkung: Sandekala sepenuhnya menjelma slasher, dengan aksi saling tikam berenergi tinggi, totalitas performa Pipien Putri, dan intensitas yang mengingatkan pada Rumah Dara. Meski darah tidak ditumpahkan berlebihan, ketegangannya terasa nyata—karena di sinilah passion sang sutradara benar-benar bicara.
Reaksi penonton di studio—tepuk tangan riuh—menjadi sinyal menarik. Mungkin, penonton Indonesia mulai siap menerima slasher yang tak setengah-setengah.
Kesimpulan
Jailangkung: Sandekala adalah film dengan ambisi jelas: mengembalikan Kimo Stamboel ke ranah slasher. Meski tersandung naskah lemah dan mitologi yang tak tergarap maksimal, klimaksnya membuktikan bahwa Kimo masih punya taji di genre ini. Jika diberi ruang lebih bebas dan skenario yang lebih solid, bukan mustahil slasher Indonesia akhirnya menemukan rumahnya.
Biarkan Kimo mencoba.

