Bayangkan seseorang yang mabuk: langkah sempoyongan, mata berat, mulut tak terhenti bicara dengan keyakinan palsu bahwa ucapannya cerdas—padahal kelakuannya konyol. Itulah sensasi utama menonton Jagat Arwah: ambisi besar dan visual yang terkadang memukau, tapi eksekusinya sering terasa sempoyongan dan kehilangan arah.
Pembuka Menjanjikan, Tapi Film Cepat Kehabisan Nafas
Jagat Arwah memulai dengan sekuen pembuka yang menjanjikan — visual masif, dunia mitologis yang mulai dibangun, dan narasi awal yang menarik. Sayangnya, janji itu tak bertahan lama. Setelah pembukaan, film seperti berjalan sambil tidur: ritme yang tidak konsisten, adegan yang draggy, dan pengembangan cerita yang acap kali mengambang tanpa tujuan jelas. Penonton yang datang dengan ekspektasi fantasi-mitis yang rapih bakal kekeuh dibiarkan menebak-nebak apa sebenarnya yang ingin disampaikan.
Karakter dan Warisan Aditya: Potensi yang Kurang Digarap
Raga (Ari Irham) adalah protagonis yang premisnya sederhana—bakat musik, benturan restu ayah—tapi kemudian warisan keluarga sebagai Aditya (semacam penjaga keseimbangan antara jagat arwah dan manusia) ditumpahkan kepadanya. Konsep Aditya menarik: garis keturunan, ritual, pelatihan. Namun naskah gagal memaparkan pelatihan itu secara bermakna. Rutinitas latihan muncul dan berlalu tanpa konteks: apa yang dilatih, mengapa penting, bagaimana itu mengubah Raga? Hasilnya, momen-momen transformasi terasa dipaksakan dan pujian dari tokoh lain — “Hebat juga kamu” — datang tanpa alasan dramaturgis yang kuat.
Pamannya, Jaya (Oka Antara), seharusnya menjadi figur mentor yang memberi bobot cerita, tapi penampilan ala Clint Eastwood hanyalah garnish estetis; substansinya tipis. Karakter-karakter lain punya potensi—konsep tim demit super, misalnya—namun pengembangan yang setengah matang membuat gagasan-gagasan ini tampak sebagai catatan ide, bukan elemen cerita yang hidup.
Baca juga : Keramat 2: Teror Tempat yang Mustahil Dilawan by AbangEmpire
Mitologi dan Bahasa Puitis yang Tak Pernah Lengkap
Naskah oleh Rino Sarjono bersama Ruben Adrian, berdasarkan cerita Mike Wiluan, seringkali terseret oleh kecenderungan menaburkan istilah mitologis dan diksi puitis tanpa penyertaan penjelasan yang memadai. Menonton Jagat Arwah kadang seperti menerima teka-teki dengan potongan yang hilang: istilah bermunculan, nuansa puitis mengambang, namun landasan mitologinya rapuh. Penonton butuh jembatan—alasan untuk peduli pada aturan dunia fiksi yang dibuat—dan jembatan itu kerap tak tersedia.Permain Seru Dan Terbaik Hanya Di AbangEmpire
Visual dan CGI: Sayang Jika Tak Dipakai Tepat
Secara teknis, film ini punya momen-momen visual impresif. CGI tidak buruk—ada adegan yang membuktikan kemampuan tim efek—namun efektivitas CGI berkurang karena pemakaian yang tidak konsisten dan koreografi aksi yang minim energi. Ketika aksi seharusnya mengerek ketegangan, banyak adegan malah terasa padat tetapi lelah: klimaks yang berkesan “terburu-buru” atau malah dipotong terlalu cepat sehingga dampak emosional ikut lenyap. Sebagus apa pun efek, tanpa latar naratif yang kuat, ia berubah jadi ornamen kosong.
Ide-ide Menarik yang Terseret Pacing
Jagat Arwah sebenarnya kaya ide: peleburan mistisisme Jawa dengan fantasi modern, pembentukan tim makhluk supernatural sebagai sekutu/antagonis, dan premis turun-temurun penjaga keseimbangan dunia. Sayangnya, pacing pengadeganan membuat semua itu seolah ditampilkan dari samping. Bukan lambat yang berniat kontemplatif; lebih tepat disebut “draggy” — adegan-adegan melar tanpa kepastian arah. Akibatnya, film memberi sensasi ‘hangover’ setelah kredit akhir: penonton keluar bioskop merasa pusing, bukan tercerahkan.
Kesimpulan: Ambisi Besar, Eksekusi yang Sempoyongan
Jagat Arwah punya modal kuat: dunia mitologis yang menjanjikan, visual yang kadang memukau, dan beberapa ide kreatif yang layak diapresiasi. Namun naskah yang lemah, pacing yang tidak stabil, serta pengembangan karakter dan mitologi yang terlupakan membuatnya terasa seperti orang mabuk yang terus berjalan—kadang lucu, kadang melelahkan, seringkali membingungkan.
Jika Anda datang untuk melihat konsep baru dan visual spektakuler, masih ada hiburan di sana. Tetapi jika Anda menuntut narasi yang rapih dan penjelasan mitologis yang memuaskan, Jagat Arwah kemungkinan besar akan meninggalkan Anda dengan rasa frustrasi—dan sedikit bingung membedakan apakah yang Anda alami adalah film atau sekadar efek rogo sukmo sinematik.

