Hidayah: Horor Religi Ambisius yang Gagal Total
Film Hidayah kembali mengangkat tema horor religi yang kental, lengkap dengan unsur rukiah, azab, dan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Di atas kertas, Hidayah memiliki modal besar untuk menjadi horor religi yang menggigit. Namun, ambisi besar tersebut justru berakhir sia-sia akibat eksekusi yang tergesa-gesa dan struktur cerita yang berantakan.
๐ฅ Premis Menarik, Tapi Terasa Dรฉjร Vu
Kisah dimulai dengan sosok ustaz muda bernama Bahri (Ajil Ditto) yang kembali ke pesantren tempatnya belajar setelah mendekam di penjara karena kematian salah satu pasien rukiahnya. Di tengah kondisi iman yang sedang rapuh, ia diminta menolong Ratna (Givina) โ seorang wanita yang diganggu kekuatan gaib hingga tubuhnya penuh luka yang mengeluarkan belatung.
Jika premis tersebut terdengar familiar, bukan kebetulan. Hidayah dan Qodrat berjalan di jalur yang hampir sama, lengkap dengan tokoh ustaz, pesantren, guru yang sakit parah, hingga klimaks yang menampilkan pertarungan melawan pemuja setan. Perbedaannya, Qodrat mampu memoles tema tersebut menjadi sinematik, sementara Hidayah justru terlihat terburu-buru.
๐ Cerita Terlalu Ambisius dan Campur Aduk
Naskah karya Baskoro Adi Wuryanto mencoba meramu banyak hal sekaligus:
-
Horor rukiah
-
Azab ala religi
-
Revenge horror
-
Misteri supernatural
-
Sentuhan drama tentang cinta dan keimanan
-
Twist religi tentang jiwa baik yang tidak mati bersama raganya
Alih-alih solid, semua subplot tersebut terasa seperti beberapa film yang dipaksa bersatu dalam satu naskah. Penonton diberi begitu banyak informasi tanpa alur yang runtut, akibatnya cerita kehilangan fokus dan rasa emosionalnya.
Baca juga : Tasbih Kosong: Horor Serius yang Tanpa Sengaja Jadi Komedi By Empire88
๐ป Teror Tetap Ada, Tapi Tidak Konsisten
Satu hal yang masih dapat dikreditkan adalah keberhasilan Monty Tiwa (bersama Dedy Kopola) dalam menghadirkan beberapa adegan horor yang efektif. Visualisasi pocong dalam film ini terlihat kreatif dan menyeramkan, bahkan salah satu adegannya seolah menjadi reinterpretasi dari penampakan pocong legendaris di film Keramat.Hanya Di Empire88 Kalian Bisa Merasakan Kemewahan Yang Sangat Luar Biasa
Sayangnya, build-up ketegangan tidak konsisten. Banyak adegan berlangsung jauh lebih panjang dari kebutuhan, tetapi justru klimaksnya berakhir prematur dan kurang menggigit.
๐ญ Pemeran Solid, Tapi Tidak Maksimal
Deretan pemeran memiliki potensi besar โ Ajil Ditto mampu memberikan pergolakan emosi, dan chemistry ensemble cast mendukung cerita. Namun minimnya pendalaman karakter membuat mereka tidak bisa tampil maksimal.
๐ Kesimpulan
Hidayah adalah horor religi yang penuh potensi, tetapi gagal memaksimalkannya.
Sutradara, penulis naskah, dan deretan aktor sudah memiliki materi kuat โ namun eksekusi terburu-buru membuat hasil akhirnya terasa setengah matang. Dengan sedikit perapian struktur cerita, pendalaman karakter, dan penajaman fokus, Hidayah sebenarnya bisa menjadi salah satu horor religi terbaik Indonesia.
Sayangnya, untuk saat ini Hidayah hanya meninggalkan kesan:
ambisi besar, hasil mengecewakan.

