Alena Anak Ratu Iblis: Horor Mewah yang Gagal Total
Film Alena Anak Ratu Iblis hadir dengan ambisi besar—budget tinggi, CGI mewah, serta cakupan cerita luas yang ingin membawa horor Indonesia ke level internasional. Namun sayangnya, semua kemegahan visual tersebut runtuh karena fondasi terpenting dalam film, yaitu naskah, justru menjadi titik terlemah. Hasilnya, film yang seharusnya epik dan menegangkan berubah menjadi tontonan horor absurd tanpa arah yang jelas.
Ambisi Besar dan Visual Mengesankan
Dalam debutnya sebagai sutradara, Sonu Samtani terlihat berusaha keras memberi kesan “horor mewah”. Banyak adegan berlatar lokasi megah, termasuk dunia fantasi tempat lava dan es secara misterius hadir berdampingan. CGI film ini pun cukup solid, terutama saat klimaks yang mengingatkan pada skenario “bagaimana kalau Damien dari The Omen meneror pesawat yang sedang mengudara?”. Bahkan dua mobil benar-benar dihancurkan demi menunjukkan totalitas produksi.
Jika film ini hanya dinilai dari aspek visual dan skala adegan, Alena Anak Ratu Iblis mungkin layak disebut spektakuler.
Naskah Kacau dan Penokohan Dangkal
Sayangnya, kehebatan efek visual tidak mampu menyelamatkan naskah yang terasa tidak jelas arahnya. Cerita penuh lubang logika, sub-plot tidak terhubung, dan karakter dibiarkan berjalan tanpa motivasi kuat. Penonton tidak diberi alasan untuk peduli pada perjalanan tokoh-tokohnya.
Karenina tampil sebagai Ratu Iblis, namun karakter tersebut digambarkan sebatas tertawa, lenggak-lenggok, dan berpose tanpa makna. Bahkan situasi dramatis malah terkesan komikal, seperti adegan hubungan dengan siluman ular yang digambarkan lewat slideshow pose kamasutra.
Konsep kelahiran Alena sendiri juga jauh dari masuk akal—lahir dari “bisul” di pantat Ratu Iblis—yang lebih terasa seperti parodi dibanding horor.
Baca juga : Film Hidayah: Horor Religi Ambisius yang Gagal Total By Rajabotak
Logika Cerita yang Tergerus
Film ini seolah lupa pada konsistensi. Ada adegan investigasi ala detektif dengan tempelan foto di dinding, konflik bipolar yang tampak hanya hasil googling kilat, sampai momen ketika karakter menulis email padahal internet tidak tersambung. Semua ini menunjukkan minimnya perhatian terhadap detail yang seharusnya menyusun alur cerita.
Alur demi alur berjalan seperti potongan film yang dipaksa menyatu, hingga penonton sulit menentukan arah sebenarnya dari film ini—horor, komedi, fantasi, atau parodi.Hanya Di Rajabotak Kalian Bisa Menjadi Pemain Hebat Dengan Game Online
Akhirnya Menjadi Pengalaman Absurd
Dialog tidak natural, akting cenderung sinetron, dan pengambilan gambar sering menghadirkan percakapan dua adegan sekaligus (foreground & background) yang justru membingungkan. Unsur sensual yang coba dipamerkan pun tampil setengah hati, tidak memperkuat teror maupun tensi emosional.
Pada akhirnya, Alena Anak Ratu Iblis justru menghadirkan hiburan bukan karena kualitasnya, melainkan karena keanehannya. Jika menonton dengan ekspektasi serius, film ini mungkin mengecewakan. Namun jika menontonnya sebagai versi horor dari Azrax, film ini bisa berubah menjadi tontonan guilty pleasure
Kesimpulan
Alena Anak Ratu Iblis memiliki ambisi yang luar biasa besar, namun keindahan visual tidak mampu menutupi lemahnya naskah, motivasi karakter, dan logika cerita. Di atas kertas film ini seharusnya mampu menjadi salah satu horor lokal terbesar, tetapi eksekusi yang terburu-buru membuat potensi besarnya terasa sia-sia.
🔻 Layak ditonton jika:
-
Menggemari film horor absurd dan guilty pleasure.
-
Menikmati CGI dan skala produksi mewah.
🔺 Kurang cocok jika:
-
Menginginkan horor dengan cerita kuat dan karakter berlapis.

